BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebagai makhluk Allah yang paling
sempurna, manusia memiliki proses perjalanan hidup yang panjang, kehidupan di
dunia ini merupakan satu-satunya kesempatan untuk mengumpulkan bekal menuju
alam akhirat. Dan sebaik-baik bekal adalah takwa, namun disisi lain manusia
harus benar-benar pandai memanfaatkan kesempatan yang terbatas itu untuk
kepentinga masa depannya.
Oleh kerena itu, sebagai langkah awal mencari bekal di
dunia maupun akhirat, kita perlu mengetahui Hadits Tentang kunci sukses
mahasiswa dalam persfektif hadits
Bagaimana Konsep Siswa/pelajar, peserta didik dalam
hadits?. Mengingat bahwa hadits bukan buku yang secara spesifik membahas
pendidikan, maka istilah yang merujuk pada pelajar dan yang semakna dapat
ditarik dari hadits-hadits yang mengarah pada upaya menuntut ilmu dalam hadits,
di antaranya adalah:
1.
Siswa/pelajar/mahasiswa adalah “”thoolibu
al-‘ilmi (penuntut ilmu), sebagai penuntut, maka para penuntut harus
menempuh jalan-jalan yang membawanya untuk menuntut ilmu, baik berupa do’a,
ikhtiyar dan included di dalamnya etika, moral dan sebagainya. Misalnya dalam
sebuah hadits disebutkan: Thalabu a-‘ilmi fariidhatun ‘ala kulli muslimin wa
muslimatin.
2.
Penuntut ilmu adalah orang yang membangun irodah
untuk mencari kebahagaiaan (sa’aadah fi al-daarain). iraadah
secara bahasa berarti kemauan. Kata ini derivasi dari araada-yuriidu-iraadah,
orang yang membangun iraadah tersebut disebut pelaku (subyek) atau faa’il (Bahasa
Arab) yang disebut dengan “muriiidun”. Sehingga pelajar juga disebut
muriidun karena merupakan orang yang membangun iradah untuk meraih kesuksesan
duniawi ukhrawi melalui ilmu yang bermanfaat. Dalam hadits disebutkan: Man araada
al-‘dunya fa’alaihi bi al’ilmi wa man araada al-akhirata fa’alaihi bi
‘al-ilmi wa man araadahuma fa’alaihi bi al-‘ilmi (orang yang ingin
dunia hendaknya dengan ilmu, ingin akhiratpun dengan ilmu, dan menginginkan
keduanya juga dengan ilmu)
Sebuah catatan penting
yang berkaitan dengan istilah muriidun adalah muridun yang dikaitkan
dengan manusia atau insan-insan penuntut ilmu dengan muriidun dalam
sifat wajib bagi Allah. Muridun dalam sifat dua puluh adalah sifat wajib bagi
Allah Yang Maha berkehendak. Sedangkan dalam konteks penuntut ilmu adalah muridun
yang ingin mencapai kesuksesan dunia akhirat sesuai perintah Allah dalam
al-Qur’an seperti yang termaktub dalam Surat
Al-Qashas ayat 77:
Artinya:
Dan carilah pada apa
yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Al-Qashas
:77).
3.
Penuntut ilmu adalah saalik yang
merupakan isim fa’il dari salaka-yasluku yang berarti “penempuh/yang
menempuh jalan”. Jalan yang ditempuh adalah jalan untuk menuntut ilmu. Hal ini
berdasarkan hadits seperti yang tertulis dalam bab sebelumnya yang mengatakan: man
salaka thaariiqan yabtagy fiihi ‘ilman sahhalallahu thariiqan ila
al-jannah (orang yang mennempuh jalan untuk menuntut/mencari ilmu akan
dipermudah jalannya ke surga ).
Namun, istilah saalik kurang lazim di telinga, tidak selazim kata
“thoolib” ataupun murid, sitilah saalik biasanya digunakan dalam
penuntut ilmu rohani seperti tasawuf ataupun thoriqat dan lainnya.
B.
Rumusan Masalah
Masalah yang dapat penulis rumuskan agar pembahasan dalam makalah
ini dapat tersusun secara lebih sistematis dan terarah adalah sebagai berikut :
1.
Apa Pengertian Kesuksesan?
2.
Apa Saja Kunci Sukses Mahasiswa/Pelajar secara global?
3.
Apa Saja Kunci Sukses Belajar Mahasiswa/Pelajar?
4.
Adakah Masalah yang menghalangi kesuksesan?
C. Metode Penulisan Makalah
Metode penulisan yang penulis gunakan dalam menyusun makalah ini
adalah library research, yakni penelitian dari
berbagai literatur-literatur baik yang bersumber dari buku-buku perpustakaan
maupun dari jaringan internet ataupun pemikiran penulis.
D.
Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Sebagai pemenuhan tugas terstruktur mata kuliah Hadits pada
Fakultas Tarbiyah (Matematika) Semester III Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Mataram Tahun 2012.
2.
Sebagai inisiatif dalam memperkaya khazanah ilmu pengetahuan
berdasarkan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki didukung oleh
literatur relevan dan orang-orang yang kompeten di bidangnya.
BAB II
PEMBAHASAN
Sukses sering kita dengar di telinga kita,
tetapi terkadang kita bingung apa sebenarnya yang dimaksud sukses itu. Karena
kata sukses itu masih global, tergantung mau dibawa ke arah mana sukses yang
kita inginkan. Ada yang beranggapan sukses itu dapat menjalankan segala
kegiatan dengan berhasil. Apakah hanya itu saja ?
Ada satu anggapan yang sangat penulis sukai, “SUKSES bukan orang pintar dan
kaya raya, Tetapi sukses adalah orang yang dapat membagi ilmunya untuk orang
lain. Dan menjadikan orang lain berhasil dengan ilmu yang dia ajarkan”.
Disini penulis akan membagi 4 kunci sukses untuk Mahasiswa
Pelajar atau kunci sukses secara global dan 5 kunci sukses belajar Mahasiswa
Pelajar secara khusus.
A.
Empat Kunci Sukses Untuk Mahasiswa/Pelajar secara Global
1.
Luruskan Niat
Niat atau tujuan ini amat menentukan hasil yang
akan kita peroleh. Seperti sabda Rasulullah SAW :
إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
: Sesungguhnya setiap
amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya.[1]
Kalau
niat atau tujuan belajar hanyalah sekedar memperoleh ijazah dan gelar, Anda
akan memperoleh kedua hal itu (tapi belum tentu Anda memperoleh kompetensi yang
diperlukan untuk bekerja dan bermanfaat di masyarakat). Kalau niat atau
tujuan belajar Anda adalah untuk memperoleh kompetensi, biasanya Anda tidak
akan berhenti berusaha sebelum Anda memperoleh kompetensi itu.
Untuk
bisa berhasil di perguruan tinggi diperlukan komitmen yang tinggi dan kerja
keras. Oleh karena itu, Anda harus amat yakin tentang pentingnya
pendidikan tinggi bagi masa depan Anda.
ü Anda harus memiliki
alasan yang jelas mengapa Anda belajar di perguruan tinggi.
ü Tetapkan tujuan spesifik
yang ingin Anda capai.
ü Ketahuilah apa yang
diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan ini.
ü Pastikan bahwa tujuan
Anda konsisten dengan minat dan kemampuan Anda.
ü Bersikaplah fleksibel,
ubahlah tujuan Anda jika perlu berdasarkan pengalaman selama perjalanan Anda
belajar di perguruan tinggi.
2.
Do’a Dan Usaha:
Kunci Sukses Penuntut Ilmu
Do’a adalah sebuah permohonan. Kata do’a berasal dari
bahasa Arab. Kata tersebut merupakan mashdar dari kata da’a-yad’u- du’aa
.Do’a adalah otaknya ibadah (al dua’u mukhhu al-‘ibaadah). Do’a pula
merupakan salah satu indikasi seseorang percaya kepada yang Maha Ghaib yaitu
Allah SWT. Karena itulah, do’a dianggap sebagai silaahun (senjata) kaum
mukmin. Mengapa?. Karena kaum atheis (mulhid) yang mendewakan rasio hanya
mejadikan yang kasat dan rasional sebagai tolak ukur setiap aktivitas yang
dilakukannya tanpa mengkomunikasikannya dengan yang Maha Pencipta bagi kaum
mukmin yaitu Allah SWT. Jadi, Do’a adalah potret pengakuan hamba akan
ketergantungan dirinya pada Allah, potret hamba yang selalu mengharap ampunan
Allah karena merasa selalu bersalah dan berupaya untuk melakukan terbaik dengan
tetap mengharap ampunan Allah SWT.
Adapun Hadist tentang doa dan contoh-contohnya, yaitu
:
a.
Do’a dan usaha selamat dari penyakit
malas, pengecut, pelit dan sebagainya
Do’a ini patut dibaca oleh siapapun, sebab (misalnya
penyakit malas) adalah penyakit yang tidak jarang menjangkiti pelajar/mahasiswa
bahkan guru ataupun dosen sekalipun.
عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ
وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ
الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW mengucapkan, Allaahumma
innii a'udzubika minal 'ajzi wal kasali wal jubni wal bukhli wal haram wa
a'udzu bika min 'adzaabil qabri wa a'udzu bika min fitnatil mahya wal mamaat
(Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah, malas, pengecut, kikir
dan pikun. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung
kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan
kematian)'" (H.R. Abu Daud, No. 1540)
b.
Berdoa agar selamat dari empat hal: ilmu
yang tidak bermanfaat, hati yang labil tidak khusu’, jiwa yang rakus dan do’a
yang tidak dikabulkan (berdoa’ di atas do’a).
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ
الْأَرْبَعِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ
لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
Artinya:
Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah SAW mengucapkan,
'Allaahumma inni a'udzu bika minal arba'i min illmin laa yanfa'u wamin qalbin
laa yakhsya'u wamin nafsin laa tasyba'u wa min du'aain laa yusma'u (Ya Allah,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara, yaitu: Dari ilmu yang
tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak pernah
kenyang (rakus), dan dari doa yang tidak dikabulkan) "(H. R. Abu Daud
No. 1548.)
Yang menarik dari bagian do’a di atas adalah :
1)
Menurut hemat penulis terdapat ad-
duaa’u ‘ala adduaa’i yaitu berdoa’
dalam do’a. Ketika menyebut (berdo’a) apa yang kita inginkan, lalu kita
mendoakan “do’a” kita agar bisa dikabulkan. Subhanallah, sebuah teladan
yang patut kita amalkan dari do’a Rasulullah SAW.
2)
Hadits di atas juga
mengajarkan kita untuk memohon agar diberikan ilmu yang bermanfaat. Indikator
ilmu yang bermanfaat (di antaranya) adalah selalu bertambah (ziyaadah) dan
membawa kebaikan (al khair) sehingga terkenal istilah barokah yaitu: ziyadatu
al-khairi (tambahan kebaikan)
3)
Hadits di atas mengajarkan
kita untuk memohon agar diberikan hati yang khusu’ serta jauh dari jiwa yang
tak pernah puas (rakus). Jika rakus dalam kebaikan/ibadah, ingin terus dan
terus ibadah sambil bekerja itu tidak masalah. Tetapi jika rakus dalam urusan
dunia, maka inilah yang seringkali mengarah pada sikap yang tidak pernah puas,
lupa bersyukur dan pada ujungnya menjadi budak bagi dirinya sendiri.
3.
Bersungguh-Sungguh
Bersunggug-sungguh, atau kita
kenalnya dengan untaian kata-kata indah “Man Jadda Wajada” : Siapa
yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Segala sesuatu yang dilakukan dengan
sungguh-sungguh, Insyallah akan berhasil. Bagaimana kita bersikap
sungguh-sungguh dalam mencapai cita-cita kita ? Kita ambil contoh cita-cita
jadi Programmer, apa yang kita lakukan dengan cita-cita itu? Kita harus
mempunyai ilmu per-Kodingan, caranya adalah dengan belajar. Belajar dengan
sesungguh-sungguhnya, mulai dari teori dan prakteknya. Karena jadi programer
harus pintar dan juga analisa yang bagus, kalau tidak pintar nanti bisa-bisa
salah dalam penentuan alur sebuah program. Programnya tidak sesuai dengan yang
diinginkan[2].
4. Sabar dan Berprasangka Baik (Khusnudzon)
Sabar adalah sebuah keindahan (al
shobru jamiilun), tidak ada yang lebih mudah dari sabar kecuali
mengucapkannya. Mengucapkan sabar itu
mudah, menerapkannya sulit. Ada juga yang menganalogikan shabar (sabar)dengan shabir (semacam obat).[3] misalnya:
الصبر كالصبر مرّ فى مذاقته لكن عواقبه أحلى من العسل
(Asshobru ka al-shabiri murrun fi madzaqatihi, laakinna
‘awakibuhu ahla min al-‘asali)
Sabar itu bagaikan obat, pahit rasanya, tapi dampaknya lebih manis
dari madu
Dalam Al-Qur’an AL-Baqarah (2) ayat 45 disebutkan:
Artinya:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan Sesungguhnya
yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,
Hal yang mirip ditemukan dalam Al-Qur’an
AL-Baqarah (2) ayat 153:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Ada pula yang mengartikan: mintalah
pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.
Dalam surat Al-Kaffi: 18:28 disebutkan peringatan tentang orang
yang sabar:
Artinya:
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru
Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah
kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini;
dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari
mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu
melewati batas.
Memang, seperti dalam pepatah arab
disebutkan bahwa orang yang sabar pasti akan beruntung:
ظفر صبر من
(man shobara zhofira)
Orang yang bersabar, akan beruntung
Bersikap
sabar dalam menggapai cita-cita itu perlu dan wajib. Karena untuk mencapai
sesuatu yang baik, harus didahului dengan niat dan perasaan yang baik pula.
Kita harus senantiasa ber Husnudzon kepada Allah, karena segala sesuatu adalah
atas Ridho Allah. Kita ambil contoh, saat kita berbisnis membuka usaha
perdagangan. Apakah bisnis itu langsung besar dan dipercayai banyak orang ?
Tentu jawabannya adalah TIDAK, karena untuk menjadi besar ada tahapan-tahapan
yang harus dilalui, entah itu toror, komplai, dll. Kita harus senantiasa ber
Husnudzon kepada Allah, ‘Ini adalah Jalan Untuk Membuat Saya Jadi Besar, Thanks
Allah’.
B.
Kunci Sukses Belajar Mahasiswa dan Pelajar
1. Zaka’ atau cerdas.
Kata
cerdas bukan hanya simbol orang yang ber IQ tinggi. Karena itu hanya bagian
dari kecerdasan. Di samping IQ
(intellectual quotient), ada EQ (emotional Quotient) dan SQ (Spritual
Quotient). Apa gunanya IQ tinggi kalau egois dan tidak bisa mengambil
simpati/bersahabat dengan yang lain.
Harus ada balance karena:
a.
Jika hanya IQ yang tinggi,
banyak orang yang sok tau, ke pedean, terkadang egois (selfish) atau kebanyakan
bahasa “akunya” bahkan lebih senang debat daripada kerja
b.
Jika EQ yang tinggi, tanpa
IQ juga berbahaya, karena terlalu pandai mengambil simpati orang, maka
dikhawatirkan terjadi KKN.
c.
Jika SQ yang tinggi, maka
orang akan lebih senang ibadah daripada kerja. Padahal kerja adalah bagian
daripada ibadah juga. Dan kecerdasan spritual (SQ) dibangun oleh IQ serta EQ
harus ditopang oleh IQ dan SQ. Ketiganya hanya bisa dibedakan tetapi sulit
dipisahkan bila mengharapkan pribadi yang mau dan mampu menjadi pfofesional da
proporsional.
2. Hirsun/ semangat yang tinggi.
Semangat yang tinggi
membuat orang menjadi mau dan mampu. Karena yang utama bagi penimba ilmu adalah
semangat. Ibarat orang yang cinta, jauh terasadekat, sulit terasa mudah, sehari
terasa satu jam dan sebagainya. Semuanya itu karena rasa senang atau semangat
yang tinggi. Bayangkan jika rasa senang/semangat tinggi tersebut ditransfer kepada
cara belajar. Maka kemauan dan kemampuan akan berjalan seiring, selaras, seayun
untuk membentuk pribadi yang kompeten dan responsible. Selanjutnya, hirshun ini
berkaitan sekali dengan rasa ingin tahu (curiousity) yang dimiliki
siswa.
Dalam pernyataan di atas, terselip kata mau dan mampu (willingness
and ability). Mengapa, hal ini karena:
a. Banyak orang yang mampu tetapi tidak mau
b. Banyak yang mau, tetapi tidak mampu
c. Yang kita inginkan adalah yang mau dan mampu dengan membangun
hirsun (semangat) ataupun ghirah untuk menuntut ilmu.
Semangat yang tinggi salah satunya
diwujudkan dalam bentuk bertanya (su’al) terhadap apa yang tidak diketahui.
Orang bijak mengatakan: Malu bertanya sesat di jalan. Selanjutnya, ketika di
madrasah/pondok dulu para ustads sering mengucapkan: Al-su’alu miftaahu
al-‘ilmi (bertanya adalah kunci ilmu).
Dalam matan Zubad disebutkan:
مَنْ لَمْ يَكُ يَعْلَمُ ذَا فَلْيَسْأَلِ
مَنْ لَمْ يَجِدْ مُعَلِّمًا َفليْرْحَلِ
“Orang
yang tidak tahu, hendanya bertanya
Jika tidak ada guru (tempat bertanya), hendaknya dia mencari
(rihlah ilmiyyah)”
3. Uang/Biaya.
Biaya memang diperlukan. Secara tekstual kata uang berarti biaya
atau materi. Jika dikontekstualisasikan kata uang (bulghah) adalah
manifestasi biaya baik berupa materi dan non materi. Dalam hal ini, ada kaitan
antara biaya dengan semangat ataupun kesabaran di atas. Sebab, biaya materi,
energi adalah hal penting penunjang kesuksesan para penuntut ilmu.
4. Petunjuk Guru.
Siapa guru itu?. Guru
adalah pendidik, bukan pengajar. Karena kalau pengajar bertugas hanya
menyampaikan ilmu dari tidak tahu menjadi tahu. Beda halnya dengan pendidik
yang sebenarnya. Pendidik adalah sosok yang digugu dan ditiru, dijadikan
panutan dan teladan (uswah) baik ucapan, sikap ataupun perilakunya. Orang bisa saja pandai ilmu pengetahuan dari
browsing lewat google, yahu ataupun website lainnya. Tetapi, belum tentu bisa
mendidiknya. Singkat kata, peran guru yang memberikan petunjuk (irsyaad)
tidak akan pernah tergantikan oleh apapun walaupun berwujud Iptek tercanggih
sekalipun.
Guru selanjutya bukan sebatas penyampai,
tetapi juga membantu siswa untuk memfilter segala yang dipelajari. Dalam hal
ini, kritik-kritik aliran kiri pendidikan, seperti PauloPreire ataupun Ivan
Illich yang mengagungkan pendidikan dan pembebasan serta mengkritik banyak
praktik pendidikan saat ini kurang relevan diterapkan dalam dunia pendidikan,
khususnya pendidikan islam.
5. Waktu yang panjang.
Waktu yang panjang sangat diperlukan dalam proses menuntut ilmu.
Hal ini perlu digaris bawahi dua hal.
1.
Menuntut ilmu bukan hanya
kewajiban, tetapi juga kebutuhan, sementara kebutuhan akan ilmu adalah sepanjag
hidup kita. Setiap apa yang dilakukan tanpa ilmu itu mardud (ditolak). Ibarat
sholat tanpa syare’at yang benar maka
tidak akan tercapai tujuan yang diinginkan. Ilmu adalah petunjuk agar ibadah
kita diterima;
وكلّ من بغير علم يعمل
أعماله مردودة لاتقبل
(setiap yang bekerja tanpa
ilmu, pekerjaannya mardud /tidak akan diterima)
Dalam konteks ibadah, ada ibadah yang
diterima (maqbuul) dan ditolak (marduud). Amalan ibadah kita akan
diterima apabila dilaksanakan sesuai dengan syarat ataupun rukunnya. Tanpa
syarat dan rukun yang benar, ibadah tidak akan diterima (marduudun).
Agar syare’at ibadah berjalan sesuai ketentuan, maka yang perlu dilakukan
adalah menuntut ilmu. Itulah mengapa, menuntut ilmu itu hukumnya wajib.
2.
Menuntut ilmu bernilai
ibadah plus nafkah.
Selanjutnya, bila ilmu
telah diperoleh, ilmu harus dimanifestasikan dalam bentuk amal dan pengamalan,
karena ilmu disebut ilmu pada dasarnya berarti jelas atau tanda.
Jelasnya suatu ilmu akan diketahui bila diikuti dengan amal dan pengamalannya. Amal
untuk diri sendiri melalui praktik dan pengamalannya melalui pengabdian
kepada yang memerlukannya.
العلم بلا عمل كا الشجر
بلا ثمر
Ilmu yang tidak
diamalkan, laksana pohon tak berbuah
C.
Masalah yang dapat menghalangi kesuksesan
Sebuah pepatah Arab mengatakan:
العبد حرّ إذا قنع * والحرّ عبد إذا طمع
(al ‘abdu hurrun iza qana’, Wal hurru ‘abdun izathama’ )
Seorang budak adalah majikan (bos) bila dia qana’ah, Dan seorang
majikan (bos) adalah budak apabila dia serakah.
Ungkapan diatas mengajak kita untuk
tidak serakah, tetapi qana’ah atau menerima apa adanya setelah kita berusaha.
Dalam kutipan diatas, tergambar bahwa, seseorang yang selalu merasa kurang
(serakah) atau tama’ tidak akan pernah merasa puas, maka ia akan menjadi budak
bagi dirinya sendiri bahkan juga orang lain. Sebaliknya, seorang budak/hamba
sahaya ataupun orang biasa yang membekali diri dengan sikap qana’ah, maka dia
bisa mengendalikan dirinya sendiri dan pada akhirnya dia bukan diperbudak oleh
keinginannya sendiri, tetapi ia adalah bos. Merasa nyaman, aman dan tidak
merasa terkejar oleh apa yang membuatnya serakah.
Orang yang serakah biasanya terjebak
oleh dirinya sendiri, yang dikejar tidak dapat, yang sudah didapat justeru
berceceran. Dalam hal ini, perlu dibedakan dua hal yaitu:
- Kebutuhan (need/al-haajah)
- Keinginan (willingness/al-iraadah)
Sesuatu yang ideal adalah kita
menginginkan sesuatu yang kita butuhkan. Jadi, we want because we need
it (kita ingin karena kita memerlukannya). Namun yang sering terjadi adalah
keinginan lebih tinggi dari kebutuhan. What we want is more than what we
need (yang kita inginkan lebih dari yang kita butuhkan). Konsekwensinya
adalah tidak jarang membuat orang lupa untuk mensyukuri apa yang telah
diperolehnya. Sehingga ia selalu ingin, ingin dan ingin terhadap sesuatu yang
belum tentu ia butuhkan.
BAB III
KESIMPULAN
A.
Kesimpulan
SUKSES bukan orang pintar dan
kaya raya, Tetapi sukses adalah orang yang dapat membagi ilmunya untuk orang
lain. Dan menjadikan orang lain berhasil dengan ilmu yang dia ajarkan.
Penulis Membagi 2 Macam kunci sukses bagi
Mahasiswa/Pelajar, yaitu :
1.
Kunci Sukses Mahasiwa/ Pelajar secara global
a.
Luruskan Niat
b.
Do’a dan Usaha : Kunci
Sukses Penuntut Ilmu
c.
Bersungguh-Sungguh
d.
Sabar dan Berprasangka Baik
2.
Kunci Sukses Belajar
Mahasiswa/Pelajar
a.
Zaka’ atau Cerdas
b.
Hirsun atau Semangat yang
tinggi
c.
Uang atau Biaya
d.
Petunjuk Guru
e.
Waktu yang panjang
Adapun hal atau sifat yang dapat
menghalangi kesuksesan itu sendiri, yaitu Orang yang serakah yang bbiasanya
terjebak oleh dirinya sendiri, yang dikejar tidak dapat, yang sudah didapat
justeru berceceran. Dalam hal ini, perlu dibedakan dua hal yaitu:
1) Kebutuhan (need/al-haajah)
2) Keinginan (willingness/al-iraadah)
B.
Saran-saran
Sebagai mahasiswa perguruan tinggi Agama Islam, maka
sepantasnyalah kita menggali lebih dalam lagi tentang berbagai ilmu pengetahuan
tentang agama dan tidak pernah merasa cukup apalagi puas dengan hasil yang
diperoleh, juga tidak berhenti hanya setelah berhasil menggali, tapi berusaha
mendakwahkannya dan membimbing umat ke arah kemajuan dan kebenaran hakiki. Agar
dapat menuju pintu kesuksesan dalam belajar. Sebab, masa kini adalah masa
dimana umat Islam mengalami kemunduran di bidang ilmu pengetahuan, bahkan umat
Islam sendiri mengalami pengikisan keilmuan tentang agama mereka sendiri, dan
parahnya lagi kemerosotan tersebut diindikasi sudah merambat ke berbagai sisi
kehidupan umat Islam.
Hal ini dapat dibuktikan dengan kemerosotan akhlak, penurunan
tensi kegiatan-kegiatan keagamaan di berbagai tempat, beralih fungsinya tujuan
ibadah menjadi tujuan duniawi, dan sebagainya. Maka kita menjadi tonggak yang
harusnya paling kuat dalam menahan arus kemunduran umat ini. Tentu tidak bisa
berdiam diri dengan berkutat dengan ketidakpedulian terhadap kondisi umat.
DAFTAR PUSTAKA
Sutikono, Sobry. 2008. Landasan Pendidikan.
Bandung: Prospect.Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.